Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
PESAN NABI SAW "Barangsiapa menempuh satu perjalanan untuk mencari suatu ilmu, Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga" (Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra)
Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2010

Puasa 14 Jam dengan Suhu Tinggi di Afrika Selatan

Sabtu, 21 Agustus 2010
0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG--Ramadhan di Afrika Selatan dilalui lebih dari 14 jam dengan temperatur di atas 30 derajat celcius. Meskipun demikian, umat Muslim di negeri paling selatan benua Afrika itu tidak kehilangan atmosfer bulan penuh rahmat. Muslim Afrika tidak hanya memaknai Ramadhan sebagai perintah Allah untuk menahan lapar dan haus.

Ramadhan juga dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki diri, emosi, mentalitas, moralitas, dan spiritualitas mereka. Ramadhan di Afrika tidak hanya membangun tradisi, tetapi juga sebagai pengalaman pendidikan luar biasa selama Ramadhan, yang meliputi pendidikan, sosial, dimensi ekonomi, dan spiritual.
Selain itu, seperti dikutip dari Islamonline.net, kehadiran bulan suci dapat menyatukan perbedaan ideologis di kalangan komunitas Islami. Jika biasanya setiap komunitas memegang teguh ideologi keislamannya, keramahan dan persaudaraan yang tinggi sebagai Muslim justru diwujudkan di bulan Ramadhan. Seperti halnya di Indonesia, jika pada hari biasa masjid-masjid kosong, maka pada bulan Ramadhan, orang-orang selalu berdesak-desakan untuk memasuki masjid.

Di rumah, perempuan melakukan shalat Tarawih sendiri. Bioskop dan teater sepi karena membaca Alquran menjadi salah satu pusat kegiatan di bulan Ramadhan. Pemakaman juga banyak dikunjungi pada bulan Ramadhan untuk mendoakan keluarga yang telah tiada.
Hidup dinamis Di Afrika Selatan, hingga kini terdapat sekitar 500 masjid dan 408 lembaga pendidikan Islam.

Banyak di antara universitas menawarkan bahasa Arab dan Studi Islam sebagai bagian dari kurikulum akademik mereka. Hal itu menunjukkan bahwa perkembangan Islam cukup pesat di negara itu. Peran Muslim di sana pun tidak bisa dibilang sedikit. Orang-orang Muslim terlibat dalam setiap profesi dan lapangan kerja.


Biasanya, bulan suci Ramadhan dimanfaatkan dengan baik untuk memublikasikan dan menjelaskan agama dan budaya Islam. Terlebih khusus menyampaikan pesan Ramadhan, baik untuk Muslim maupun non-Muslim. Tujuannya, agar non-Muslim mempunyai pemahaman yang benar tentang Islam, tidak hanya sepenggal-sepenggal.
Salah satu cara menyebarkan pesan Ramadhan itu adalah dengan menggunakan media Islam. Stasiun radio swasta menyiarkan shalat Tarawih di hampir setiap provinsi.

Di antara radio yang aktif menyiarkan pesan Ramadhan, antara lain Radio Islam di Johannesburg, Radio 786 di Cape Town, dan Radio Al-Anshar di Durban.
Koran Islam juga memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat Muslim dan non-Muslim tentang Ramadhan. Surat kabar terkemuka meliputi Al-Qalamn, Tampilan Muslim, Al-Ummah, dan Al-Miftah berperan dalam menyebarluaskan informasi tentang Islam.

Sejak awal Ramadhan, perempuan Afrika Selatan sudah antusias mempersiapkan hidangan lezat untuk makan bersama keluarga pada waktu iftar. Menu makanan, antara lain samosa, pie, kari, dan halim (sejenis kaldu) yang hadir pada hampir setiap meja makan keluarga.

read more

Sabtu, 17 Juli 2010

Tak Ada Lagi Istilah Islam Radikal dalam Pidato Obama

Sabtu, 17 Juli 2010
0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Rumusan kata menjadi sangat penting. Apa lagi jika akhirnya melahirkan stigma dan salah paham terhadap suatu agama. Perhatian besar kini diarahkan Pemerintah AS terhadap masalah tersebut. Mereka berupaya untuk tak lagi menggunakan istilah Islam radikal dalam seluruh pidato resmi.

Presiden Barack Obama beralasan, persoalan kata ini sangat penting. Sebab, dengan menggunakan kata-kata atau rangkaian kalimat yang mengaitkan Islam dengan ancaman teror justru akan menguntungkan propaganda yang telah dilakukan kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan. Sebaliknya, akan mengalienasi Muslim moderat di AS.

Melalui National Security Strategy pada Mei lalu, sejumlah pejabat AS mengungkapkan perubahan diperlukan untuk menghentikan langkah kelompok Alqaidah. Selama ini, kata mereka, pemimpin kelompok teror itu menggunakan dan memanfaatkan persepsi yang salah.
Para pemimpin kelompok itu menganggap dirinya se bagai pemimpin agama yang mempertahankan kesucian agamanya.

"Namun pada dasarnya, mereka bukanlah seperti yang mereka anggap," kata John Brennan, seorang pejabat yang menangani masalah kontraterorisme, seperti dikutip Arab News, Selasa (13/7). Brennan mengatakan, menggambarkan kelompok kelompok seperti Alqaidah dengan menggunakan term atau istilah yang mengacu pada agama, melahirkan anggapan bahwa AS melakukan perang terhadap Islam.

"Kami tak akan pernah berperang terhadap Islam. Sebab Islam, seperti keyakinan lainnya telah menjadi bagian dari Amerika," ujarnya. Dalam hal ini, Brennan juga menegaskan bahwa menggambarkan musuh sebagai Islamis akan mela hirkan hal yang kontraproduktif.

Larry Korb, seorang analis militer di Center for American Progress, mengungkapkan, langkah untuk tak mengaitkan Islam dengan terorisme merupakan hal yang penting. "Sekali Anda mengusik hal yang berkaitan dengan agama, pada dasarnya Anda telah mengatakan bahwa hal itu, dalam hal ini terorisme, disebabkan agama." Korb menegaskan bahwa sebagian besar Muslim tak memiliki kaitan dengan kegiatan terorisme. "Jika Anda menggunakan istilah teroris Islam maka akan menyebabkan masalah yang lebih besar. Anda tentu tak ingin menyatakan bahwa perang terhadap terorisme merupakan perang terhadap dunia Islam," katanya.

Komandan pasukan AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus, menulis dalam sebuah panduan manual pada 2006, saat pemerintahan George W Bush. Ia melahirkan istilah-istilah Islamic insurgents, Islamic extremists, dan Islamic subversives. Namun kini, Jenderal James Mattis yang memegang komando, tak menggunakan kata itu.

Mattis bertanggung jawab atas operasi militer di Afghanistan dan Pakistan. Juga di Timur Tengah. Ia mengatakan, akan menyebut kelompok teroris hanya sebagai musuh dan tak mengaitkannya dengan agama manapun termasuk Islam. "Ini adalah musuh, yang telah membunuh Muslim, Yahudi, Kristen, atau Hindu," katanya.

Dalam sebuah laporan yang diperoleh Associated Press, para pakar kontraterorisme mendesak diplomasi AS untuk membedakan secara tajam antara keyakinan Muslim dan mereka yang melakukan gerakan teror. AS harus mampu menyuarakan lebih banyak kelompok-kelompok Muslim yang menentang pelaku teror. Dengan demikian langkah memerangi terorisme bisa berjalan baik.

read more
Related Posts with Thumbnails
MAAF BLOG MASIH DALAM PERBAIKAN....JIKA SAHABAT ORIS INGIN MEMBERIKAN KRITIK DAN.........SARAN KEPADA KAMI SILAHKAN HUB KAMI LEWAT CONTACT YANG TELAH KAMI SEDIAKAN....TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA