Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
PESAN NABI SAW "Barangsiapa menempuh satu perjalanan untuk mencari suatu ilmu, Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga" (Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra)

Sabtu, 21 Agustus 2010

MUI Haramkan Nikah Wisata

Sabtu, 21 Agustus 2010
0 komentar

JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan nikah wisata atau pernikahan yang dilakukan oleh wisatawan Muslim untuk jangka waktu selama ia dalam perjalanan wisata. "Nikah wisata atau biasa dikenal dengan nikah mu'aqqat hukumnya haram," demikian dibacakan oleh Sekretaris Komisi C yang membahas fatwa Asrorun Ni'am Sholeh, dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI di Jakarta, Selasa.

Pernikahan yang dimaksudkan adalah bentuk pernikahan yang dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun pernikahan namun pernikahan itu diniatkan untuk sementara saja. Ketua MUI Bidang Fatwa Ma'ruf Amin mengatakan setelah penetapan fatwa tersebut pihaknya akan melakukan sosialisasi mengenai keputusan tersebut. "Kita akan sosialisasikan ke daerah-daerah dimana ini terjadi," kata Ma'ruf.

Sosialisasi akan dilakukan ke daerah karena Ma'ruf menyebut praktek pernikahan semacam itu biasanya terjadi tidak secara resmi namun dibawah tangan dan umum dilakukan di beberapa daerah tertentu. Di beberapa daerah, praktek nikah wisata itu dilakukan oleh penduduk setempat karena alasan ekonomi dimana para turis yang menikahi mereka biasanya harus membayar "mahar" dalam jumlah lumayan besar.

Setelah sosialisasi, MUI juga akan mengeluarkan rekomendasi terkait termasuk kemungkinan mengeluarkan peraturan untuk menjalankan fatwa tersebut. "Kita mungkin akan bicara dengan menteri atau DPR kalau menyangkut (pembuatan) Undang Undang," kata Ma'ruf.


read more

Alkohol Dalam Obat dan Parfum

0 komentar

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-MakassariBanyak pertanyaan seputar alkohol yg masuk ke meja redaksi kaitannya dgn obat kosmetika atau pun lainnya. Berikut ini penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al- MakassariAlhamdulillah para ulama besar abad ini telah berbicara tentang permasalahan alkohol1 maka di sini kita nukilkan fatwa-fatwa mereka sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yg diajukan.Terdapat perbedaan ijtihad di antara mereka dalam memandang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz v berpendapat bahwa sesuatu yg telah bercampur dgn alkohol tidak boleh dimanfaatkan meskipun kadar alkoholnya rendah dalam arti tidak mengubahnya menjadi sesuatu yg memabukkan. Karena hal ini tetap masuk dalam haditsمَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ“Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnyapun haram.”2Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yg sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol dgn perbandingan kadar campuran yg beraneka ragam maka beliau menjawab “Obat-obatan yg memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yg banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi n:مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ“Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnyapun haram.”Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan hanya saja berefek membius utk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”Juga ketika beliau ditanya tentang parfum yg disebutالْكُلُوْنِيَا beliau berkata: “Parfum family:traditional arabic’>الْكُلُوْنِيَا yg mengandung alkohol tidak boleh utk digunakan. Karena telah tetap di sisi kami berdasarkan keterangan para dokter yg ahli di bidang ini bahwa parfum jenis tersebut memabukkan krn mengandung “spiritus” yg dikenal. Oleh sebab itu haram bagi kaum lelaki dan wanita utk menggunakan parfum jenis tersebut..Kalau ada parfum jenis cologne yg tidak memabukkan maka tidak haram menggunakannya.

Karena hukum itu berputar sesuai dgn ‘illah-nya3 ada atau tidaknya ‘illah tersebut {kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya}.” Dan yg lbh jelas lagi adl jawaban beliau pada Majmu’ Fatawa beliau berkata: ”Pada asalnya segala jenis parfum dan minyak wangi yg beredar di khalayak manusia hukumnya halal. Kecuali yg diketahui mengandung sesuatu yg merupakan penghalang utk menggunakannya krn ‘sesuatu’ itu memabukkan atau banyaknya memabukkan atau krn ‘sesuatu’ itu adl najis dan yg semacamnya..Jadi jika seseorang mengetahui ada parfum yg mengandung ‘sesuatu’ berupa bahan memabukkan atau benda najis yg menjadi penghalang utk menggunakannya maka diapun meninggalkannya seperti cologne. Karena telah tetap di sisi kami berdasarkan persaksian para dokter bahwa parfum ini tidak terbebas dari bahan memabukkan krn mengandung ‘spiritus’ berkadar tinggi yg merupakan bahan memabukkan sehingga wajib utk ditinggalkan . Kecuali jika ditemukan ada parfum jenis ini yg terbebas dari bahan memabukkan {maka tentunya tidak mengapa utk digunakan}. Dan jenis-jenis parfum yg lain sebagai gantinya sekian banyak yg dihalalkan oleh Allah k walhamdulillah.Demikian pula halnya segala macam minuman dan makanan yg mengandung bahan memabukkan wajib utk ditinggalkan. Kaidahnya adalah: “Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” sebagaimana sabda Rasulullah nمَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ“Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnyapun haram.”Dan hanya Allah k lah yg memberi taufik.”Demikian pula yg terpahami dari fatwa guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i v bahwa pendapat beliau sama dgn pendapat gurunya yaitu Asy- Syaikh Ibnu Baz v ketika ditanya tentang cologne. Beliau menjawab bahwa tidak boleh menggunakannya dan tidak boleh memperjualbelikannya berdasarkan hadits Anas bin Malik z:لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً: عَاصِرُهَا وَمُعْتَصِرُهَا وَشَارِبُهَا وَحَامِلُهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيْهَا وَبَائِعُهَا وَآكِلُ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ“Rasulullah n melaknat 10 jenis orang krn khamr: yg memprosesnya yg minta dibuatkan yg meminumnya yg membawanya yg dibawakan untuknya yg menghidangkannya yg menjualnya yg makan harga penjualannya yg membelinya dan yg dibelikan untuknya.”4Sementara itu Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin v dan Asy-Syaikh Al-Albani v berpendapat bahwa pada permasalahan ini ada rincian sebagaimana yg akan kita simak dgn jelas dari fatwa keduanya.Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin v dalam Asy-Syarhul Mumti’ cetakan Darul Atsar berkata: “Bagaimana menurut kalian tentang sebagian obat-obatan yg ada pada masa ini yg mengandung alkohol terkadang digunakan pada kondisi darurat?Kami nyatakan: Menurut kami obat-obatan ini tidak memabukkan seperti mabuk yg diakibatkan oleh khamr melainkan hanya berefek mengurangi kesadaran penderita dan mengurangi rasa sakitnya. Jadi ini mirip dgn obat bius yg berefek menghilangkan rasa sakit tanpa disertai rasa ni’mat dan terbuai.Telah diketahui bahwa hukum yg bergantung pada suatu ‘illah5 jika ‘illah tersebut tidak ada maka hukumnya pun tidak ada. Nah selama ‘illah suatu perkara dihukumi khamr adl “memabukkan” sedangkan obat-obatan ini tidak memabukkan berarti tidak termasuk kategori khamr yg haram. Wallahu a’lam. Wajib bagi kita utk mengetahui perbedaan antara pernyataan: “Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” dgn pernyataan: “Sesuatu yg memabukkan dan dicampur dgn bahan yg lain maka haram.” Karena pernyataan yg pertama artinya minuman itu sendiri apabila anda minum banyak tentu anda mabuk dan apabila anda minum sedikit maka anda tidak mabuk namun Rasulullah n mengatakan “Sedikitnyapun haram.” {Kenapa demikian padahal yg sedikit tersebut tidak memabukkan?} Karena itu merupakan dzari’ah {artinya bahwa yg sedikit itu merupakan wasilah/ perantara yg akan menyeret pelakunya sampai akhirnya dia minum banyak sehingga diharamkan}. Adapun mencampur dgn bahan lain dgn perbandingan kadar alkoholnya sedikit sehingga tidak menjadikan bahan tersebut memabukkan maka yg seperti ini tidak mengubah bahan tersebut menjadi khamr . Jadi ibaratnya seperti benda najis yg jatuh ke dalam air dan tidak menajisi {merusak kesucian} air tersebut maka air tersebut tidak menjadi najis karenanya .”Asy-Syaikh Al-Albani v ketika ditanya tentang berbagai parfum atau minyak wangi yg mengandung alkohol maka beliau menjawab “Apabila kadar alkohol yg terkandung di dalamnya menjadikan parfum-parfum yg harum itu sebagai cairan yg memabukkan dalam arti kalau diminum oleh seorang pecandu khamr dan ternyata memberi pengaruh seperti pengaruh khamr {yaitu mengakibatkan dia mabuk maka parfum-parfum tersebut hukumnya tidak boleh . Adapun jika kadar alkoholnya sedikit {dalam arti tidak mengubah parfum-parfum tersebut menjadi memabukkan} maka hukumnya boleh. {Kaset Silsilatul Huda wan Nur}Kemudian kita akhiri pembahasan ini dgn fatwa Asy-Syaikh Al-Albani v yg sangat rinci.

Beliau v berkata: “Untuk memahami makna hadits:مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ“Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”Mari kita mendatangkan contoh: Kalau ada 1 liter air yg mengandung 50 gram bahan memabukkan yg kita namakan alkohol maka cairan ini –yang tersusun dari air dan alkohol– berubah menjadi memabukkan. Namun jika seseorang minum sedikit maka dia tidak akan mabuk. Lain halnya jika dia minum dgn kadar yg lazim diminum oleh seseorang maka dia akan mabuk dgn demikian menjadilah yg sedikit tadi haram. Sebaliknya kalau ada 1 liter air mengandung 5 gram alkohol . Jika seseorang minum 1 liter air tersebut sampai habis dia tidak mabuk maka yg seperti ini halal utk diminum.Selanjutnya apakah boleh bagi seorang muslim mengambil 1 liter air kemudian menumpahkan 5 gram alkohol ke dalamnya dgn alasan bahwa 5 gram alkohol tersebut tidak mengubah 1 liter air yg ada menjadi memabukkan?Jawabannya: Tidak boleh. Kenapa tidak boleh? Karena tidak boleh bagimu utk memiliki bahan yang memabukkan yg merupakan inti dari khamr yaitu alkohol. Jadi kegiatan mencampur alkohol dgn bahan lain tidak boleh dalam syariat Islam…Telah kami nyatakan bahwa obat-obatan yg ada di apotek-apotek pada masa ini –bahkan boleh jadi kebanyakannya– mengandung alkohol atau tertera padanya tulisan perbandingan kadar alkoholnya: 5 gram 10 gram… Apakah kita mengatakan bahwa obat-obatan ini jika diminum seorang sehat ataupun sakit dgn kadar yg banyak dan ternyata dia mabuk berarti tidak boleh digunakan krn memabukkan meskipun dia hanya menelan 1 sendok saja? Inilah yang dimaksudkan dgn hadits “Sesuatu yg banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.” Adapun jika perbandingan alkoholnya sedikit –dalam arti berapapun yg dia minum tidak menjadikannya mabuk– maka boleh menggunakannya meskipun dia minum banyak.Namun perkara lain sama dgn apa yg telah saya sebutkan sebelumnya bahwa obat-obatan yg mengandung alkohol dgn perbandingan yg tidak melanggar syariat sesuai dgn rincian yg disebutkan tidak boleh bagi seorang apoteker muslim utk meracik obat yg seperti itu. Karena tidak boleh ada alkohol di rumah seorang muslim ataupun di tempat kerjanya. Haram baginya utk membelinya atau membuatnya sendiri.

Dan ini perkara yg jelas krn Rasulullah n bersabda:لَعَنَ اللهُ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً..“Allah melaknat 10 jenis orang krn khamr…”7Seorang apoteker yg hendak meracik obat dan mencampurnya dgn alkohol yg memabukkan itu baik dgn cara membuat alkohol sendiri atau membeli alkohol yg sudah jadi termasuk dalam salah satu dari 10 jenis orang yg dilaknat dalam hadits tersebut.Lain halnya apabila seseorang membeli obat yg sudah jadi dgn kadar alkohol yg rendah yang tidak menjadikan banyaknya obat tersebut memabukkan maka ini boleh.” {Kaset Silsilatul Huda wan Nur}Dan kami memandang bahwa pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsamin v dan Asy-Syaikh Al-Albani v lebih dekat kepada kebenaran.Wallahu a’lam.1 Perlu diketahui bahwa alkohol ada beberapa golongan. Di antaranya etanol {inilah yang dijadikan sebagai zat pelarut bahan bakar atau zat asal utk preparat-preparat farmasi dan sebagian besar digunakan utk minuman keras} spiritus dsb. sebagaimana diterangkan dalam buku-buku kimia dan farmasi.2 Diriwayatkan oleh Abu Dawud At-Tirmidzi Ibnu Majah Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdillah c.

Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad .

Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dan beliau menshahihkannya dgn syawahidnya dari beberapa shahabat yg lain .3 ‘Illah suatu hukum adl sebab penentu suatu perkara memiliki hukum tersebut.4 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil v dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadits yg semakna dgn hadits ini juga diriwayatkan dgn lafadzلَعَنَ اللهُ .. dari Ibnu ‘Umar c oleh Ath-Thahawi Al-Hakim dan yg lainnya dishahihkan oleh Al-Albani dgn keseluruhan jalan-jalannya dalam Al-Irwa` .5 Lihat catatan kaki no. 36 Lihat haditsnya secara lengkap pada fatwa Asy-Syaikh Muqbil di halaman sebelumnya.
sumber : file chm Darus Salaf 2


read more

Puasa 14 Jam dengan Suhu Tinggi di Afrika Selatan

0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG--Ramadhan di Afrika Selatan dilalui lebih dari 14 jam dengan temperatur di atas 30 derajat celcius. Meskipun demikian, umat Muslim di negeri paling selatan benua Afrika itu tidak kehilangan atmosfer bulan penuh rahmat. Muslim Afrika tidak hanya memaknai Ramadhan sebagai perintah Allah untuk menahan lapar dan haus.

Ramadhan juga dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki diri, emosi, mentalitas, moralitas, dan spiritualitas mereka. Ramadhan di Afrika tidak hanya membangun tradisi, tetapi juga sebagai pengalaman pendidikan luar biasa selama Ramadhan, yang meliputi pendidikan, sosial, dimensi ekonomi, dan spiritual.
Selain itu, seperti dikutip dari Islamonline.net, kehadiran bulan suci dapat menyatukan perbedaan ideologis di kalangan komunitas Islami. Jika biasanya setiap komunitas memegang teguh ideologi keislamannya, keramahan dan persaudaraan yang tinggi sebagai Muslim justru diwujudkan di bulan Ramadhan. Seperti halnya di Indonesia, jika pada hari biasa masjid-masjid kosong, maka pada bulan Ramadhan, orang-orang selalu berdesak-desakan untuk memasuki masjid.

Di rumah, perempuan melakukan shalat Tarawih sendiri. Bioskop dan teater sepi karena membaca Alquran menjadi salah satu pusat kegiatan di bulan Ramadhan. Pemakaman juga banyak dikunjungi pada bulan Ramadhan untuk mendoakan keluarga yang telah tiada.
Hidup dinamis Di Afrika Selatan, hingga kini terdapat sekitar 500 masjid dan 408 lembaga pendidikan Islam.

Banyak di antara universitas menawarkan bahasa Arab dan Studi Islam sebagai bagian dari kurikulum akademik mereka. Hal itu menunjukkan bahwa perkembangan Islam cukup pesat di negara itu. Peran Muslim di sana pun tidak bisa dibilang sedikit. Orang-orang Muslim terlibat dalam setiap profesi dan lapangan kerja.


Biasanya, bulan suci Ramadhan dimanfaatkan dengan baik untuk memublikasikan dan menjelaskan agama dan budaya Islam. Terlebih khusus menyampaikan pesan Ramadhan, baik untuk Muslim maupun non-Muslim. Tujuannya, agar non-Muslim mempunyai pemahaman yang benar tentang Islam, tidak hanya sepenggal-sepenggal.
Salah satu cara menyebarkan pesan Ramadhan itu adalah dengan menggunakan media Islam. Stasiun radio swasta menyiarkan shalat Tarawih di hampir setiap provinsi.

Di antara radio yang aktif menyiarkan pesan Ramadhan, antara lain Radio Islam di Johannesburg, Radio 786 di Cape Town, dan Radio Al-Anshar di Durban.
Koran Islam juga memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat Muslim dan non-Muslim tentang Ramadhan. Surat kabar terkemuka meliputi Al-Qalamn, Tampilan Muslim, Al-Ummah, dan Al-Miftah berperan dalam menyebarluaskan informasi tentang Islam.

Sejak awal Ramadhan, perempuan Afrika Selatan sudah antusias mempersiapkan hidangan lezat untuk makan bersama keluarga pada waktu iftar. Menu makanan, antara lain samosa, pie, kari, dan halim (sejenis kaldu) yang hadir pada hampir setiap meja makan keluarga.

read more

Dompet Dhuafa Bantu Veteran dan Pelajar

0 komentar

JAKARTA - Dompet Dhuafa menyerahkan bantuan bagi veteran dan pelajar di sejumlah daerah di Indonesia. Bentuk bantuan yang diberikan berupa program beasiswa anak dan ketiban rumah veteran.

Direktur Program Dompet Dhuafa Arifin Purwakanata mengatakan, bantuan tersebut diberikan sebagai penghargaan kepada para pejuang yang telah berkontribusi kepada bangsa dan negara.

"Pejuang ini dalam arti luas, mereka seperi penjaga mercusuar, penjaga pintu kereta api. Kalau semua pejuang kere, generasi muda nantinya males berjuang. Jadi bantuan ini menghargai perjuangan mereka. Ini adalah momentum hari kemerdekaan dan bulan suci Ramadan," katanya kepada Okezone di Gedung Juang 45, Jalan Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat, Jumat (20/8/2010).

Arifin menambahkan, sebanyak lima rumah telah diberikan kepada veteran dengan total biaya Rp300 juta di daerah Jakarta. Kemudian, bantuan rumah lainnya akan diberikan ke sejumlah daerah antara lain Padang, Medan, dan Kalimantan.

Selain itu, sejumlah beasiswa diberikan kepada 300 pelajar pada Ramadan ini. Bantuan tersebut diberikan kepada siswa SD sebesar Rp500 ribu, SMP Rp1 juta, dan SMA Rp1,5 juta per tahun.

"Untuk biaya tambahan pendidikan totalnya 300 siswa. Beasiswa ini diberikan kepada siswa di berbagai daerah. Bantuan ditujukan untuk anak penjaga mercusuar dan penjaga pintu kereta api," tambahnya

Secara simbolis bantuan tersebut diserahkan menjelang berbuka puasa. Sejumalah veteran juga menyampaikan cerita singkatnya selama masa perjuangan dulu.
(ram)

read more

Duo Gus Bicara Toleransi Islam Ngotot Muncul dari Kota

0 komentar

Jakarta , wahidinstitute.org
Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin Rembang Jawa Tengah KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) didaulat menjadi narasumber pada peringatan Harlah NU ke-82 bertema Sufi dan Toleransi di Indonesia, yang diselenggarakan the WAHID Institute di Kantor the WAHID Institute Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Matraman Jakarta, Senin (28/01/2008).

Pada acara yang dipandu Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy ini, tampak hadir mantan juru bicara Gus Dur Adhie M Massardi, penyanyi Franky Sahilatua, Sekjen DPP PKB Yenny Wahid, anggota FKB Badriyah Fayumi, dan aktivis HAM MM Billah. Tampak juga aktivis dari berbagai agama dan lembaga sosial.

Dalam orasinya, Gus Dur mengingatkan, Islam mengajarkan toleransi dan memberi penghargaan yang tinggi kepada umat agama lain. Ini, antara lain, didasarkan pada Qs. al-Kafirun: 6: lakum dinukum waliya din/bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.

“Ini kata Tuhan, bukan siapa-siapa,” tegasnya.

Menurut Gus Dur, keberagaman agama-agama itu telah ada sejak dahulu kala, yang karenanya tidak seharusnya diseragamkan. Yang terpenting untuk menyikapinya, imbuh Gus Dur, adalah seperti yang diajarkan Empu Tantular 8 abad silam pada masa awal Kerajaan Majapahit, yaitu bhinneka tunggal ika/berbeda-beda tetap satu jua.

“Ini yang harus kita pegangi. Jangan mencari perbedaannya, tapi carilah persamaannya,” pesannya.

Karena itu, menurut Gus Dur, apa yang dilakukan kelompok Islam keras dengan menuntut penyeragaman, itu tidak bisa dibenarkan. “Saya rasa, saya sependapat bahwa semuanya ini terjadi karena mereka nggak paham ajaran agama,” tuturnya.

Gus Dur lantas mengaitkan ketidakpahaman pada ajaran agama ini dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1986, yang mengharamkan kaum muslim mengucapkan selamat natal pada orang Kristen. Hingga kini, Gus Dur mengaku tidak mengerti apa landasan MUI mengeluarkan keputusan demikian.

“MUI bilang, orang Kristen percaya Nabi Isa itu Tuhan. Itu kan urusan mereka. Masak kita ngurusin itu. Simpel to?,” kata Gus Dur. “al-Qur’an sendiri kan bilang salamun ‘alaihi yauma wulid (mudah-mudahan kedamaian atas Jesus pada hari kelahirannya). Wong al-Qur’annya saja membolehkan, kok manusianya melarang,” imbuhnya.

Gus Dur juga mengritik kelompok Islam tertentu yang begitu mudahnya mencap kafir kelompok Nasrani dan Yahudi. Jika al-Qur’an menyebut kata kafir, kata Gus Dur, itu tidak diarahkan pada Nasrani maupun Yahudi, karena mereka memiliki julukan khusus ahlu al-kitab. Karenanya, yang dikatakan kafir itu tak lain musyrik Makkah, yang menyekutukan Tuhan. “Baca gitu aja nggak bisa, ya repot,” katanya.

Pembicara lain, budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, Islam yang ngotot atau Islam petentengan, itu muncul dari kota, bukan dari desa. Karena lumrahnya, orang-orang desalah yang masih setia merawat Islam yang toleran, tengah-tengah dan yang tidak ngotot. “Ini yang bikin saya bangga dengan desa. Ini menurut pengamatan saya yang agak lama. Mungkin saya salah,” katanya tawadhu’.

Ia juga menyatakan, buku-buku karya Abu al-A’la Maududi, Sayyid Qutub, Hasan al-Banna dan sebagainya, kebanyakan diterjemahkan orang kota. “Saya ndakndeso atau pesantren yang menerjemahkan buku-buku ini,” ujarnya. melihat dari kalangan

Dan memang, diakui Gus Mus, kini semangat keberagamaan yang berlebihan justru muncul dari kota. Semisal Kota Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Karena demikian menggebu-gebunya dalam beragama, katanya, akhirnya timbul Islam yang ngotot atau petentengan itu. “Kalau nggak begini, nggak sesuai mereka, pokoknya jahannam,” katanya.

Gus Mus menyayangkan semangat orang kota ini, karena acapkali kengototan itu tak dibarengi dengan ketekunan belajar agama. Akhirnya, imbuhnya, terjadi ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan dengan pemahamannya terhadap ajaran agama. “Repotnya, lalu mereka merasa seolah-olah mendapat mandat dari Gusti Allah untuk mengatur orang di dunia ini,” kritiknya.

Mertua mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar-Abdalla ini juga mengritik perilaku anarkis kelompok Islam tertentu atas kelompok lain yang berbeda, dengan alasan supaya mereka dicintai Allah SWT. Mereka ini, kata Gus Mus, sesungguhnya belum mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang atas hamba-hamba-Nya.

“Orang yang tidak kenal Gusti Allah tapi ingin menyenangkan-Nya, salah-salah malah mendapat marah-Nya. Jadi tidak logis ada orang mau menyenangkan Allah SWT, tapi tidak mengenal-Nya,” tegas Gus Mus.

Inilah sejatinya, kata Gus Mus, kelompok Islam yang ngaji agamanya tidak tutugbab al-ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mereka mengira ajaran Islam hanya sependek itu. Efeknya, ke mana-mana bawaan mereka marah melulu. Padahal, masih ada bab selanjutnya tentang tawadhu’, sabar, dan seterusnya. Mereka inilah yang menjadi masalah, karena siapapun yang berbeda pasti akan disalahkan dan disesatkan. alias tidak tuntas. Mereka baru belajar

“Dan sikap petentengan ini yang menjadi awal tidak adanya toleransi. Karena petentengan juga, kadang orang yang beragama melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya secara tidak sadar. Tapi kalau dasarnya cinta, seperti kaum sufi, itu nggak ada petentengan,” ujarnya.

Untuk itu, Gus Mus berpesan, hendaknya kaum muslim belajar terus tanpa henti. Dan berfikirlah segila mungkin, toh ayat al-Qur’an yang menyuruh berfikir itu sama banyaknya dengan ayat al-Qur’an yang menyuruh untuk berzikir. “Jadi, jangan pasang plang dulu ‘saya wakil Pengeran’. Tapi pelajari dulu yang dalam. Kalau tidak, alih-alih dicintai Allah SWT, tapi malah dibenci-Nya,” katanya mengingatkan.

“Jika dimintai pendapat oleh Bakorpakem soal Ahmadiyah, apa yang akan Gus Mus sampaikan?” tanya aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Novriantoni Kahar.

Dengan kesantaian khas kiai pesantren, Gus Mus mengatakan dirinya tidak akan ngomong apa-apa soal Ahmadiyah, karena Bakorpakem belum memintai pendapatnya. “Nanti saja kalau sudah ditanya Bakorpakem,” katanya disambut tawa hadirin.

Penulis buku Membuka Pintu Langit (Kompas: 2007) ini lantas mengritik perilaku kelompok Islam tertentu yang gemar merusak properti milik Jemaah Ahmadiyah atau memukuli jemaahnya, karena menganggap mereka sesat. Gus Mus menamsilkan, ada orang yang hendak pergi ke Jakarta lalu berhenti di Rembang Jawa Tengah. Ia lantas berjalan terus ke arah Surabaya. “Mau ke mana?” tanya Gus Mus. “Mau ke Jakarta!” jawab orang itu.

“Saya lalu bilang, mau ke Jakartakok ke timur? Berarti kamu ini salah alias sesat. Ya, saya tempeleng saja. Apa begini caranya? Cara ini kannggak bener dan lucu,” kata Gus Mus heran.

Ini terjadi, kata Gus Mus, tak lain karena orang belajar ajaran agamanya tidak tutug atau tuntas. “Baru sarjana muda leren (selesai), lalu merasa sudah S3,” sindirnya.[nhm]


read more

VIRUS VIRUS UKHUWAH

0 komentar

Virus pertama: MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN DIRI

Banyak kisah dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan gemerlap dunia dan berlumba-lumba untuk mendapatkannya.

Apa yang akan kita lakukan seandainya ada peluang rezeki di mana kita dan saudara kita sama2 membelakangkan satu sama lain? Sering terjadi dua orang sahabat saling bersaing, demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti dilakukan oleh kaum Ansar terhadap kaum Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam QS. Al Hasyr :9 berikut ini
"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung"

Virus berikutnya : TIDAK SANTUN DALAM BERBICARA

Hal ini merupakan pintu yang paling luas bagi syaitan untuk masuk menebar bibit2 perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan. Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang harus dihindari adalah : Berbicara dengan nada suara tinggi dan menggunakan kata-kata kasar. Di dalam Al Qur'an, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya :
"Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai" (QS. Luqman : 19)
Tidak mendengar saran saudaranya, enggan menatap ketika berbicara atau memberi salam, tidak menghargai keberadaannya.
Seorang ulama salaf berkata : "Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadis, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai." Kemuliaan akhlaq Rasulullah membawa beliau untuk tetap mndengar dan tidak memotong kata2 seorang musyrik bernama 'Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : "Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan 'Utbah)?" Mari kita cuba refleksi ke diri kita sendiri. Kadang saat teman kita sedang bercerita sesuatu..atau ingin mengutarakan pendapatnya, kerana rasa sudah tahu, kita potong pembicaraannya.

Yang harus kita hindari berikutnya adalah : BERGURAU SECARA BERLEBIHAN
Gurauan ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelunturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, gurauan yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah

Seterusnya ialah: SERING BERDEBAT DAN MEMBANTAH

Sering mendebat dan membantah diikuti oleh perkara negatif lainnya seperti menganggap unggul idea, sering mengkritik idea sahabat, menggunakan kata2 pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berfikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memacu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran. Sabda Rasulullah : "Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan suka membantah" (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Tirmidzi, Ahmad)

Harus dihindari pula : KRITIKAN KERAS DAN MELUKAI PERASAAN.

Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan : "Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkan." Atau : "Kamu bertentangan dengan saya."
Ada cara yg lebih santun utk mengkritik...misalnya :"Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi", "Menurut hemat saya....", "Saya mempunyai idea lain, harap antum menyemaknya dan memberi penilaian", dan ungkapan2 serupa.
Kalau kita akan merasa 'sakit' bila dibegitukan...dikritik dgn nada yg melukai perasaan...maka marilah ke depan..kita juga lebih pintar memilih kata2 yg tepat utk menyampaikan kritik pd saudara kita.

Virus berikutnya : SIKAP ACUH

Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur.
caranya antara lain : mencuba membangkitkan rasa ukhuwah tersebut dan memohon pada Allah agar hati kita ditautkan dgn hati saudara2 kita.
Seorang ulama salaf berkata :
"Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar2 tidak boleh duduk diam (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).
subhanallah..seekor lalat yg hinggap di tubuh saudaranya difikirkan
Perasaan yang tulus juga akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu2 terkabulnya do'a.
Sabda Rasulullah : "Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, nescaya akan dikabulkan". (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

Sama-samalah kita muhasabah semula akan ukhuwah kita dengan sahabat-sahabat kita. Seboleh-bolehnya kita elakkan lah virus-virus ini menyerang ukhuwah kita. ' Prevention is better than cure'

read more

Islam ''NGOTOT'' itu berasal dari KOTA

0 komentar

Budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, Islam yang ngotot atau Islam pethenthengan, itu muncul dari kota, bukan dari desa. Karena lumrahnya, orang-orang desalah yang masih setia merawat Islam yang toleran, tengah-tengah dan yang tidak ngotot. “Ini yang bikin saya bangga dengan desa. Ini menurut pengamatan saya yang agak lama. Mungkin saya salah,” katanya tawadhu’.

Ia juga menyatakan, buku-buku karya Abu al-A’la Maududi, Sayyid Qutub, Hasan al-Banna dan sebagainya, kebanyakan diterjemahkan orang kota. “Saya ndak melihat dari kalangan ndeso atau pesantren yang menerjemahkan buku-buku ini,” ujarnya.

Dan memang, diakui Gus Mus, kini semangat keberagamaan yang berlebihan justru muncul dari kota. Semisal Kota Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Karena demikian menggebu-gebunya dalam beragama, katanya, akhirnya timbul Islam yang ngotot atau pethenthengan itu. “Kalau nggak begini, nggak sesuai mereka, pokoknya jahannam,” katanya.

Gus Mus menyayangkan semangat orang kota ini, karena acapkali kengototan itu tak dibarengi dengan ketekunan belajar agama. Akhirnya, imbuhnya, terjadi ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan dengan pemahamannya terhadap ajaran agama. “Repotnya, lalu mereka merasa seolah-olah mendapat mandat dari Gusti Allah untuk mengatur orang di dunia ini,” kritiknya.

Gus Mus juga mengritik perilaku anarkis kelompok Islam tertentu atas kelompok lain yang berbeda, dengan alasan supaya mereka dicintai Allah SWT. Mereka ini, kata Gus Mus, sesungguhnya belum mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang atas hamba-hamba-Nya.

“Orang yang tidak kenal Gusti Allah tapi ingin menyenangkan-Nya, salah-salah malah mendapat marah-Nya. Jadi tidak logis ada orang mau menyenangkan Allah SWT, tapi tidak mengenal-Nya,” tegas Gus Mus.

Inilah sejatinya, kata Gus Mus, kelompok Islam yang ngaji agamanya tidak tutug alias tidak tuntas. Mereka baru belajar bab al-ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mereka mengira ajaran Islam hanya sependek itu. Efeknya, ke mana-mana bawaan mereka marah melulu. Padahal, masih ada bab selanjutnya tentang tawadhu’, sabar, dan seterusnya. Mereka inilah yang menjadi masalah, karena siapapun yang berbeda pasti akan disalahkan dan disesatkan.

“Dan sikap pethenthengan ini yang menjadi awal tidak adanya toleransi. Karena pethenthengan juga, kadang orang yang beragama melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya secara tidak sadar. Tapi kalau dasarnya cinta, seperti kaum sufi, itu nggak ada pethenthengan,” ujarnya.

Untuk itu, Gus Mus berpesan, hendaknya kaum muslim belajar terus tanpa henti. Dan berfikirlah segila mungkin, toh ayat al-Qur’an yang menyuruh berfikir itu sama banyaknya dengan ayat al-Qur’an yang menyuruh untuk berzikir. “Jadi, jangan pasang plang dulu ‘saya wakil Pengeran’. Tapi pelajari dulu yang dalam. Kalau tidak, alih-alih dicintai Allah SWT, tapi malah dibenci-Nya,” katanya mengingatkan.

Penulis buku Membuka Pintu Langit (Kompas: 2007) ini lantas mengritik perilaku kelompok Islam tertentu yang gemar merusak properti milik Jemaah Ahmadiyah atau memukuli jemaahnya, karena menganggap mereka sesat. Gus Mus menamsilkan, ada orang yang hendak pergi ke Jakarta lalu berhenti di Rembang Jawa Tengah. Ia lantas berjalan terus ke arah Surabaya. “Mau ke mana?” tanya Gus Mus. “Mau ke Jakarta!” jawab orang itu.

“Saya lalu bilang, mau ke Jakarta kok ke timur? Berarti kamu ini salah alias sesat. Ya, saya tempeleng saja. Apa begini caranya? Cara ini kan nggak bener dan lucu,” kata Gus Mus heran.

Ini terjadi, kata Gus Mus, tak lain karena orang belajar ajaran agamanya tidak tutug atau tuntas. “Baru sarjana muda leren (selesai), lalu merasa sudah S3,” sindirnya.[nhm]

read more

Kamis, 29 Juli 2010

PEMBINAAN TILAWAH AL QUR'AN MASJID SUBULUSSALAM ANGKATAN II (2009) SE EKS- KARISIDENAN KEDIRI

Kamis, 29 Juli 2010
1 komentar


































read more

PEMBINAAN TILAWAH AL QUR'AN MASJID SUBULUSSALAM ANGKATAN I (2008) SE EKS- KARISIDENAN KEDIRI

0 komentar






















read more
Related Posts with Thumbnails
MAAF BLOG MASIH DALAM PERBAIKAN....JIKA SAHABAT ORIS INGIN MEMBERIKAN KRITIK DAN.........SARAN KEPADA KAMI SILAHKAN HUB KAMI LEWAT CONTACT YANG TELAH KAMI SEDIAKAN....TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA